Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)

Standar Profesional Akuntan Publik terdiri dari enam standar yaitu:

1. Standar Auditing.

2. Standar Atestasi.

3. Standar Jasa Akuntansi dan Review.

4. Standar Jasa Konsultasi.

5.Standar Pengendalian Mutu.

6.Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik.

Kelima standar yang pertama merupakan standar teknis yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik., sedangkan Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan aturan moral yang diterbitkan oleh Kompartemen Akuntan Publik. Keenam standar profesional ini disusun untuk mengatur mutu jasa yang dihasilkan akuntan publik bagi masyarakat.

1. Standar Auditing merupakan panduan audit atas laporan keuangan historis, yang terdiri dari 10 standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA) termasuk interpretasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA).Standar ini bersifat mengikat bagi anggota Ikatan Akuntan Indonesia yang berpraktik sebagai akuntan publik, sehingga pelaksanaannya bersifat wajib.

2. Standar Atestasi memberikan rerangka untuk fungsi atestasi bagi jasa akuntan publik yang mencakup tingkat keyakinan tertinggi yang diberikan dalam jasa audit atas laporan keuangan historis, pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif, serta tipe perikatan atestasi lain yang memberikan keyakinan yang lebih rendah (review, pemeriksaan, dan prosedur yang disepakati). Standar atestasi terdiri dari 11 standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Atestasi (PSAT), termasuk Interpretasi Pernyataan Standar Atestasi (IPSAT). Standar ini mengikat akuntan publik dan pelaksanaaannya bersifat wajib.

3. Standar Jasa Akuntansi dan Review memberikan rerangka untuk fungsi nonatestasi bagi jasa akuntan publik yang mencakup jasa akuntansi dan review.Dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (PSAR), dan bersifat mengikat akuntan publik sehingga pelaksanaannya wajib.

4. Standar Jasa Konsultasi memberikan panduan bagi praktisi yang menyediakan jasa konsultasi bagi kliennya melalui kantor akuntan publik. Dalam jasa konsultasi, para praktisi menyajikan temuan, kesimpulan, dan rekomendasi.

5. Standar Pengendalian Mutu, memberikan panduan bagi kantor akuntan publik dalam melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan oleh kantornya dengan mematuhi berbagai standar yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik dan Aturan Etika Kompertemen Akuntan Publik.

* Hubungan Standar Atestasi dan Standar Auditing

Audit atas laporan keuangan yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia merupakan satu di antara jasa atestasi yang disediakan KAP kepada masyarakat. Dalam tahun-tahun terakhir ini, permintaan jasa atestasi oleh klien, lembaga pemerintah, dan pihak lain telah meluas, tidak hanya terbatas pada audit atas laporan keuangan historis, namun mencakup juga jasa profesi akuntan publik yang memberikan tingkat keyakinan (level of assurance) di bawah tingkat keyakinan yang diberikan oleh auditor dalam audit atas laporan keuangan historis.

1. STANDAR AUDITING

Terdiri dari 3 standar umum, 3 standar pekerjaan lapangan, dan 4 standar pelaporan.

1. Standar Umum

  • Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.
  • Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
  • Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

2. Standar Pekerjaan Lapangan

  • Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
  • Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup oengujian yang akan dilakukan.
  • Bukti audit yang kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.

3. Standar Pelaporan

  • Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
  • Laporan audit harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistensian penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
  • Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
  • Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahea pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor.

Penjelasan standar umum pertama yaitu: audit harus dilaksanakan oleh seseorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor. Dalam melaksanakan audit untuk sampai pada suatu pernyatan pendapat, auditor harus senantiasa bertindak sebagai seorang ahli dalam bidang akuntansi dan bidang auditing. Pencapaian keahlian tersebut dimulai dengan pendidikan formalnya, yang diperluas melalui pengalaman-pengalaman selanjutnya dalam praktik audit.

Penjelasan standar umum kedua yaitu: dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. Standar ini mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karene ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum. Dengan demikian tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun, sebab bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang dimiliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak, yang justru sangat penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya.

Penjelasan standar umum ketiga : Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. Standar ini menuntut auditor independen untuk merencanakan dan melaksanakan pekerjaannya dengan menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama. Penggunaan kemahiran profesional dengan kecermatan dan keseksamaan menekankan tanggung jawab setiap profesional yang bekerja dalam organisasi auditor independen untuk mengamati standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan.

Penjelasan standar pekerjaan lapangan pertama yaitu: Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang diharapkan. Sifat, lingkup, dan saat perencanaan bervariasi dengan ukuran dan kompleksitas entitas, pengalaman mengenai entitas, dan pengetahuan tentang bisnis entitas. Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan, antara lain :

  1. Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas dan industri yang menjadi tempat usaha entitas tersebut..
  2. Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas tersebut.
  3. Metode yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah informasi akuntansi yang signifikan, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah informasi akuntansi pokok perusahaan.
  4. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
  5. Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit.
  6. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian (adjustment).
  7. Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit, seperti resiko kekeliruan atau kecurangan yang material atau adanya transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
  8. Sifat laporan laporan auditor yang diharapkan akan diserahkan (sebagai contoh, laporan auditor tentang laporan keuangan konsolidasi, laporan keuangan yang diserahkan ke Bapepam, laporan khusus untuk menggambarkan kepatuhan klien terhadap kontrak perjanjian).

Supervisi: Pekerjaan yang dilaksanakan oleh asisten harus di review untuk menentukan apakah pekerjaan tersebut telah dilaksanakan secara memadai dan auditor harus menilainya apakah hasilnya sejalan dengan kesimpulan yang disajikan dalam laporan auditor.

Penjelasan standar pekerjaan lapangan kedua: Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang dilakukan. Pengendalian intern adalah suatu proses yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan : keandalan laporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Pengendalian intern terdiri dari lima komponen yang saling terkait yaitu :

  1. Lingkungan pengendalian
  2. Penaksiran risiko
  3. Aktivitas pengendalian
  4. Informasi dan komunikasi
  5. Pemantauan

Dalam semua audit, auditor harus memperoleh pemahaman masing-masing dari lima komponen pengendalian intern yang cukup untuk merencanakan audit dengan melaksanakan prosedur untuk memahami desain pengendalian yang relevan dengan suatu audit laporan keuangan, dan apakah pengendalian tersebut dioperasikan. Dalam perencanaan audit, pengetahuan tersebut digunakan untuk:

  1. Mengidentifikasi salah saji potensial.
  2. Mempertimbangkan faktor-faktor yang berdampak terhadap risiko salah saji material
  3. Mendesain pengujian substantif.

Penjelasan standar pekerjaan lapangan yang ketiga: Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.Pernyataan manajemen (asersi) yang terkandung di dalam komponen laporan keuangan dapat diklasifikasikan menjadi 5 golongan yaitu: keberadaan atau keterjadian (exitence or occurrence), kelengkapan (completeness), hak dan kewajiaban (right and obligation), penilaian (valuation), dan Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure).Didalam memperoleh bukti audit yang mendukung asersi dalam laporan keuangan, auditor independen merumuskan tujuan audit spesifik ditinjau dari sudut asersi tersebut dengan mempertimbangkan kondisi khuisus entitas termasuk sifat aktivitas ekonomi dan praktik akuntansi yang khas dalam industrinya.

Penjelasan standar pelaporan pertama menyatakan: Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Pendapat auditor, bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum harus didasarkan atas pertimbangannya apakah :

  1. Prinsip akuntansi yang dipilih dan diterapkan telah berlaku umum di Indonesia.
  2. Prinsip akuntansi yang dipilih tepat untuk keadaan yang bersangkutan
  3. Laporan keuangan beserta catatannya memberikan informasi cukup yang dapat mempengaruhi penggunaan, pemahaman, dan penafsirannya.
  4. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan diklasifikasikan dan diikhtisarkan dengan semestinya, yang tidak terlalu rinci atau ringkas.
  5. Laporan keuangan mencerminkan peristiwa dan transaksi yang mendasarinya dalam suatu cara yang menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas dalam batas-batas yang layak dan praktis untuk dicapai dalam laporan keuangan.

Penjelasan standar pelaporan kedua yaitu: laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam pnyusunan laporan keuangan priode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya. Tujuan standar konsistensi adalah untuk memberikan jaminan bahwa jika daya banding laporan keuangan di antara dua periode dipengaruhi secara material oleh perubahan prinsip akuntansi, auditor akan mengungkapkan perubahan tersebut dalam laporannya.

Penjelasan standar pelaporan ketiga yaitu: Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor. Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum mencakup dimuatnya pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal material. Hal-hal tersebut mencakup bentuk, susunan, dan isi laporan keuangan, serta cataan atas laporan keuangan yang meliputi, sebagai contoh, istilah yang digunakan, rincian yang dibuat, penggolongan unsur dalam laporan keuangan, dan dasar-dasar yang digunakan untuk menghasilkan jumlah yang dicantumkan dalam laporan keuangan. Auditor harus mempertimbangkan apakah masih terdapat hal-hal tertentu yang harus diungkapkan sehubungan dengan keadaan dan fakta yang diketahuinya pada saat audit.

Penjelasan standar pelaporan keempat yaitu: Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada , dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor. Tujuan standar pelaporan keempat adalah untuk mencegah salah tafsir tentang tingkat tanggung jawab yang harus dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan laporan keuangan.


1. 2. STANDAR ATESTASI

Standar ini berlaku pada akuntan publik yang melaksanakan suatu perikatan atestasi.Suatu perikatan atestasi adalah perikatan yang di dalamnya praktisi mengadakan perikatan untuk menerbitkan komunikasi tertulis yang menyatakan suatu simpulan tentang keandalan asersi tertulis yang menjadi tanggung jawab pihak lain.

1. Standar Umum:

  • Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup dalam fungsi atestasi.
  • Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang memiliki pengetahuan cukup dalam bidang yang bersangkutan dengan asersi.
  • Praktisi harus melaksanakan perikatan hanya jika ia memiliki alasan untuk menyakinkan dirinya bahwa dua kondisi berikut ini ada :
  • Dalam semua hal yang bersangkutan dengan perikatan, sikap mental independen harus dipertahankan oleh praktisi.
  • Kemahiran profesional harus selalu digunakan oleh praktisi dalam melaksanakan perikatan, mulai dari tahap perencanaan sampai dengan pelaksanaan perikatan tersebut.

1. Asersi dapat dinilai dengan kriteria rasional, baik yang telah ditetapkan oleh badan yang diakui atau yang dinyatakan dalam penyajian asersi tersebut dengan cara cukup jelas dan komprehensif bagi pembaca yang diketahui mampu memahaminya.

2. Asersi tersebut dapat diestimasi atau diukur secara konsisten dan rasional dengan menggunakan kriteria tersebut.Kriteria rasional adalah kriteria yang menghasilkan informasi bermanfaat. Manfaat informasi tergantung pada keseimbangan memadai antara relevansi dan keandalan.

2. Standar Pekerjaan Lapangan

  • Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
  • Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar rasional bagi simpulan yang dinyatakan dalam laporan.

3. Standar Pelaporan

  • Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan menyatakan sifat perikatan atestasi yang bersangkutan.
  • Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai apakah asersi disajikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat pengukur.
  • Laporan harus menyatakan semua keberatan praktisi yang signifikan tentang perikatan dan penyajian asersi.
  • Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi yang disusun berdasarkan kriteria yang disepakati atau berdasarkan suatu perikatan untuk melaksanakan prosedur yang disepakati harus berisi suatu pernyataan tentang keterbatasan pemakaian laporan hanya oleh pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau prosedur tersebut.

3. STANDAR JASA AKUNTANSI DAN REVIEW

Terdiri dari Kompilasi dan review atas laporan keuangan, pelaporan atas laporan keuangan komparatif, Laporan kompilasi atas laporan keuangan yang dimasukkan dalam formulir tertentu, komunikasi antara akuntan pendahulu dengan akuntan pengganti, pelaporan atas laporan keuangan pribadi yang dimasukkan dalam rencana keuangan pribadi tertulis.

Kompilasi Dan Review Atas Laporan Keuangan

Pelaporan Atas Kompilasi Laporan Keuangan tanpa audit atau review oleh akuntan harus disertai dengan suatu laporan akuntan yang menyatakan bahwa :

  1. Kompilasi telah dilakukan sesuai denganstandar.
  2. Kompilasi terbatas pada penyajian informasi dalam bentuk laporan keuangan yang merupakan representasi manajemen atau pemilik.
  3. Laporan keuangan tidak diadit atau direview dan dengan demikian akuntan tidak menyatakan pendapat atau bentuk keyakinan lain apapun.

Pelaporan Akuntan mengenai hasil revuiew atas laporan keuangan, harus disertai dengan laporan akuntan yang menyatakan bahwa :

  1. Review dilaksanakan sesuai dengan Standar Jasa Akuntansi dan Review yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia.
  2. Semua informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan adalah penyajian manajemen atau pemilik entitas tersebut.
  3. Review terutama mencakup permintaan keterangan kepada para pejabat penting perusahaan dan prosedur analitik yang diterapkan terhadap data keuangan.
  4. Lingkup review jauh lebih sermpit dibandingkan dengan lingkup audit yang tujuannya untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan, dan dengan demikian tidak dinyatakan pendapat semacam itu dlalam suatu review.
  5. Akuntan tidak mengetahui adanya suatu modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, selain dari perubahan, jika ada, yang telah diungkapkan dalam laporan akuntan.

Pelaporan Atas Laporan Keuangan Komparatif

Laporan keuangan yang disusun oleh klien untuk beberapa periode yang tidak diaudit, direview atau dikompilasi dapat disajikan di halaman terpisah dalam suatu dokumen yang juga berisi laporan keuangan periode lain yang dilaporkan oleh akuntan.Laporan keuangan komparatif adalah laporan keuangan dua periode atau lebih yang disajikan dalam bentuk kolom.

4. 4. STANDAR JASA KONSULTASI

Jasa konsultasi adalah jasa profesional yang disediakan dengan memadukan kemahiran teknis, pendidikan, pengamatan, pengalaman, dan pengetahuan praktisi mengenai proses konsultasi, yang meliputi : Konsultasi, jasa pemberian saran profesional, jasa implementasi , jasa transaksi, jasa penyediaan staf dan jasa pendukung lainnya dan jasa produk.

1. Standar Umum :

  • Kecakapan Profesional
  • Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama
  • Perencanaan dan supervisi
  • Data relevan yang memadai

2. Standar umum tambahan:

  • Kepentingan klien : dalam setiap perikatan, praktisi harus melayani kepentingan klien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kesepakatan dengan klien dengan tetap mempertahankan integritas dan objektivitas.
  • Kesepakatan dengan klien : Praktisi harus mencapai kesepakatan baik secara lisan maupun tertulis, dengan klien mengenai tanggung jawab masing-masing pihak dan sifat, lingkup, dan keterbatasan jasa yang akan disediakan, dan mengubah kesepakatan tersebut apabila terjadi perubahan signifikan selama masa perikatan.
  • Komunikasi dengan klien : Praktisi harus menberitahu kliennya tentang adanya : benturan kepentingan, keraguan signifikan yang berkaitan dengan lingkup dan manfaat suatu perikatan dan temuan atau kejadian signifikan selama periode perikatan.

5. . 5. STANDAR PENGENDALIAN MUTU KANTOR AKUNTAN PUBLIK

Setiap Kantor Akuntan Publik wajib memiliki sistem pengendalian mutu dan menjelaskan unsur-unsur pengendalian mutu dan hal-hal yang terkait dengan implementasi secara efektif sistem tersebut. Sistem pengendalian mutu KAP mencakup struktur organisasi, kebijakan dan prosedur yang ditetapkan KAP untuk memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian perikatan profesional dengan SPAP. Sistem pengendalian mutu harus komprehensif dan harus dirancang selaras dengan struktur organisasi, kebijakan, dan sifat praktik KAP.

Unsur-unsur sistem pengendalian mutu :

  1. Independensi
  2. Penugasan personel
  3. Konsultasi
  4. Supervisi
  5. Pemekerjaan (hiring)
  6. Pengembangan profesional
  7. Promosi
  8. Penerimaan dan keberlanjutan klien
  9. Inspeksi

Standar Pelaksanaan dan Pelaporan Review Mutu

Tujuan program review mutu IAI adalah untuk meningkatkan mutu kinerja anggota IAI dalam perikatan audit, atestasi, akuntansi dan review, konsultasi. Tujuan program ini dicapai melalui tindakan pendidikan dan perbaikan serta tindakan koreksi. Tujuan tersebut digunakan untuk melayani kepentingan masyarakat umum dan sekaligus untuk meningkatkan arti pentingnya keanggotaan IAI.

6. 6. ATURAN ETIKA KOMPARTEMEN AKUNTAN PUBLIK

Standar Umum

A. Kompetensi profesional

B. Kecermatan dan keseksamaan profesional

C. Perencanaan dan supervisi

D. Data relevan yang memadai

Tanggung Jawab kepada Klien

1. Informasi Klien yang Rahasia

anggota KAP tidak diperkenankan mengungkapkan informasi klien yang rahasia tanpa persetujuan klien

2. Fee Profesional

Besarnya fee dapat bervariasi tergantung antara lain : risiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut, struktur biaya KAP yang bersangkutan dan pertimbangan profesional lainnya.

3. Fee Kontinjen

Fee kontinjen adalah fee yang ditetapkan untuk pelaksanaan suatu jasa profesinal tanpa adanya fee yang akan dibebankan, kecuali ada temuan atau hasil tertentu dimana jumlah fee tergantung pada temuan atau hasil tertentu tersebut.

Tanggung Jawab kepada Rekan Profesi

1. Tanggung jawab kepada rekan seprofesi

Anggota wajib memelihara citra profesi, dengan tidak melakukan perbuatan dan perkataan yang dapat merusak reputasi rekan seprofesi.

2. Komunikasi Antar Akuntan Publik

Anggota wajib berkomunikasi tertulis dengan akuntan publik terdahulu bila akan melakukan perikatan audit menggantikan akuntan publik pendahulu atau untuk tahun buku yang sama ditunjuk akuntan publik lain dengan jenis dan periode serta tujuan yang berlainan . Akuntan publik pendahuli wajib menanggapi secara tertulis permintaan komunikasi dari akuntan pengganti secara memadai.

3. Perikatan Atestasi

Akuntan publik tidak diperkenankan mengadakan perikatan atestasi yang jenis atestasi dan periodenya sama dengan perikatan yang dilakukan oleh akuntan yang lebih dulu ditunjuk klien, kecuali apabila perikatan tersebut dilaksanakan untuk memenuhi ketentuan perundang-undangan atau peraturan yang dibuat oleh badan yang berwenang.

Tanggung Jawab dan Praktik Lain

1. Perbuatan dan perkataan yang mendiskreditkan

Anggota tidak diperkenankan melakukan tindakan dan atau mengucapkan perkataan yang mencemarkan profesi.

2. Iklan, promosi dan kegiatan pemasaran lainnya

Anggota dalam menjalankan praktik akuntan publik diperkenankan mencari klien melalui pemasangan iklan, melakukan promosi pemasaran dan kegiatan pemasaran lainnya sepanjang tidak merendahkan citra profesi.

3. Komisi dan Fee Referal

Anggota KAP tidak diperkenankan untuk memberikan/menerima komisi apabila pemberian/penerimaan komisi tersebut dapat mengurangi independensi. Fee referal (rujukan) adalah imbalan yang dibayarkan/diterima kepada/dari sesama pnyedia jasa profesional akuntan publik. Fee referal hanya diperkenankan bagi sesama profesi.

4. Bentuk Organisasi dan KAP

Anggota hanya dapat berpraktik akuntan publik dalam bentuk organisasi yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau yang tidak menyesatkan dan merendahkan citra profesi.

Iktisar Standar Profesi Akuntansi

SPAP

Kualifikasi dan Perilaku Umum

Kinerja Pekerjaan Lapangan Audit

Hasil Pelaporan

Memiliki kecakapan dan pelatihan yang cukup

Memiliki sikap menal yang independen

Bersikap profesional

Perencanaan dan supervisi yang cukup

Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern

Bukti-bukti audit yang cukup kompeten dan jumlahnya yang memadai

Apakah laporan tersebut telah disajikan sesuai dengan GAAP/PSAK

Kondisi-kondisi saat GAAP tidak dipatuhi secara konsisten

Kecukupan pengungkapan informasi

Pengungkapan opini atas laporan keuangan










Referensi tulisan

Rebele, J. E., Michaels, R. E. and Wachter, R. (1996) ‘The relationship of career stage to job outcomes and role stress: a study of external auditors’, Advances in Accounting, 14: 241–58.

McNair, C. J. (1991) ‘Proper compromises: the management control dilemma in public accounting and its impact on auditor behavior’, Accounting, Organizations and Society, 16(7): 635–53.

Dillard, J. F. and Ferris, K. R. (1989) ‘Individual behavior in professional accounting . rms: a review and synthesis’, Journal of Accounting Literature, 8: 208–34.

Libby, R. and Luft, J. (1993) ‘Determinants of judgment performance in accounting settings: ability, knowledge, motivation, environment’, Accounting, Organizations and Society, 18(5): 425–50.

Resume

NAMA : MOHAMMAD FADIL

NPM : 20207724

KELAS : 3EB08


TUGAS III

Resume (Ringkasan)

  1. Judul : HUBUNGAN PEMAHAMAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH DAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DENGAN KINERJA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DI PROVINSI DKI JAKARTA

Resume:

Berdasarkan hasil penelitian maka disimpulkan bahwa ada hubungan antara pemahaman system akuntansi pemerintah daerah dengan pengelolaan keuangan daerah di Provinsi DKI Jakarta. Pemahaman terhadap system akuntansi pemerinntah daerah yang baik berhubungan dengan pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah yang baik pula.

Pemahaman system akuntansi pemerintah yang baik oleh aparat yang berhubungan dengan kinerja aparat di Satuan Kerja Perangkat Daerah, artinya apabila pengelolaan keuangan daerah dikelola sesuai dengan system akuntansi pemerintah yang benar, maka dapat meningkatkan kinerja aparat di Satuan Kerja Perangkat Daerah. Sehingga kinerja yang berupa pelayanan kepada masyarakat dapat dirasakan manfaatnya. Kinerja (pelayanan public) juga dapat berdampak pada jangka menengah dan panjang pada masyarakat.

Sumber daya manusia yang paham akan konsep pengukuran kinerja masih kurang. Pejabat pemerintahan melakukan pengukran kinerja sesuai dengan petunjuk yang tersedia, hal ini lebih dikarenakan pengukuran kinerja dilakukan atas dasar kewajiban dari surat kebijaksanaan pemerintah pusat sehingga mau tidak mau unit kerja harus melaksanakan kewajiban tersebut.

Sejauh ini implementasi pengukuran kinerja merupakan kewajiban bagi instansi pemerintah daerah dalam rangka mewujudkan good governance. Meskipun demikian dorongan dan komitmen dari segala pihak diperlukan agar tercipta perubahan kearah yang lebih baik.

  1. Judul : HUBUNGAN ANTARA ANGGARAN, REALISASI ANGGARAN DAN TEMUAN PENGAWAS INTERNAL PADA INSTANSI PEMERINTAH

Resume:

    1. Kinerja anggaran dan kinerja realisasi anggaran msing-,asing satua kerja dari tahun 2006-2008 berfluktuasi. Hal ini disebabkan karena bervariasinya masing kegiatan pada stuan kerja tersebut.
    2. Temuan atas penyimpangan yang dilakukan oleh satuan kerja lebih banyak terjadi pada penerima dana dekon dan dana perbantuan dan setiap tahun ditemukan pada provinsi yang sama.
    3. Secara umum,jenis temuan mempunyai hubungan yang sangat erat terhadap jenis temuan lain (berkorelasi secara signifikan).
    4. Temuan yang dikelompokkan kedalam kode-kode temuan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap realisasi anggaran.
    5. Dalam melakukan tindak lanjut hasil temuan, terlihat bahwa satuan kerja belum sepenuhnya menyadari kewajiban dalam memenuhi rekomendasi yang diberikan oleh pengawas internal. Hal ini terlihat dari masih sedikitnya tindak lanjut yang dilakuakan oleh satuan kerja sehingga selama kurun waktu tiga tahun, temuan tersebut semakin bertambah. Idealnya temuan tersebut seharusnya semakin berkurang sehingga pada satu waktu tertentu menjadi temuan nol.

Abstraksi

NAMA : MOHAMMAD FADIL

NPM : 20207724

KELAS : 3EB08

TUGAS II

Buatlah Abstrak dari 2 judul Penelitian akuntansi

1. Judul : HUBUNGAN PEMAHAMAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH DAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DENGAN KINERJA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DI PROVINSI DKI JAKARTA

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja aparat SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang telah paham dengan akuntansi pemerintah daerah dan telah melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Meningkatnya permintaan terhadap pelayanan public mendorong pemerintah daerah untuk melaksanakan anggaran berbasis kinerja. Setiap biaya yang direncanakan harus dikaitkan dengan tingkat pelayanan public. Obyek penelitian ini adalah pejabat di SKPD di DKI Jakarta. Data yang digunakan adalah data primer, dengan variabel pemahaman system akuntansi pemerintah daerah, pengelolaan keuangan daeerah, dan kinerja SKPD. Alat analisis yang digunakan adalah uji validitas, reliabilitas, dan uji hubungan dengan chi square. Aplikasi computer menggunakan SPSS. Pemahaman system akuntansi pemerintah daerah yang baik dapat meningkatkan pengelolaan keuangan daerah dan kinerja SKPD.

2. Judul : HUBUNGAN ANTARA ANGGARAN, REALISASI ANGGARAN DAN TEMUAN PENGAWAS INTERNAL PADA INSTANSI PEMERINTAH

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk engetahui besarnya anggaran dan realisasi anggaran, jumlah temuan pengawas internal (yang dikelompokkan menjadi kode temuan 01-10) dan tindak lanjut penyelesaian satuan kerja tahun 2006-2008 di Instansi Pemerintah yang penulis teliti. Serta untuk mengetahui apakah kode temuan pengawas internal saling berkorelasi dan apakah terdapat pengaruh temuan pengawas internal dengan realisasi anggaran. Metode penelitian adalah dengan analisa deskriptif, Statistik Multivariat dengan analisa Metode Hierarchical Cluster serta Uji korelasi dan uji Regresi Berganda. Dari hasil penelitian tersebut, didapatkan bahwa kinerja anggaran masing-masing satuan kerja bervariasi dari tahun ke tahun. Penerima dana terbesar terdapat di Tingkat Pusat, sementara realisasi anggaran terbesar berada di Tingkat Provinsi. Jumlah temuan hasil pengawasan pengawas internal dari tahun 2006-2008 terus mengalami peningkatan dan merupakan akumulasi dari temuan yang belum ditindaklanjuti dari tahu sebelumnya. Dari hasil uji metode Hierarchical Cluster didapat bahwa temuan pengawas internal hamper selalu ditemukan pada provinsi yang sama yaitu penerima dana dekosentrasi dan dana perbantuan. Hasil uji korelasi didapat bahwa secara umum, terdapat hubungan(korelasi) secara signifikan diantara jenis temuan yang satudengan jenis temuan lainnyan(TM01 sampai dengan TM10). Hasil uji regresi didapat bahwa temuan 01 sampai 10 tidak berpengaruh terhadap realisasi anggaran.

HUBUNGAN PEMAHAMAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH DAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DENGAN KINERJA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DI PROVINSI DKI JAK

NAMA : MOHAMMAD FADIL

NPM : 20207724

KELAS : 3EB08

TUGAS I

1. a. Judul : HUBUNGAN PEMAHAMAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH DAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DENGAN KINERJA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH DI PROVINSI DKI JAKARTA

b. Penulis : Aris Budi Setyawan

c. Waktu Penerbitan : tanggal 15

d. Nama majalah : UG JURNAL

e. Lembaga Pnerbit : Universitas Gunadarma

f. Volume dan nomor majalah : Vol. 3 No. 10 Tahun 2010

2. Urutan Penulisan :

- Pendahuluan

- Tinjauan pustaka

i. Pemahaman Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah

ii. Pengelolaan Keuangan Daerah

iii. Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah

- Metode Penelitian

- Hasil dan Pembahasan

i. Uji Validitas dan Reliabilitas

ii. Hubungan Pemahaman Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (Pemahaman) dengan Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah di Provinsi DKI Jakarta (Kinerja)

iii. Hubungan Pengelolaan Daerah (Pengelolaan) dengan Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah di DKI Jakarta (Kinerja)

- Penutup

i. Kesimpulan

ii. Saran

- Daftar Pustaka

3. Artikel diatas merupakan penelitian berdasarkan Penelitian Dasar/Basic Research

Karena penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menambah pengetahuan atau pemahaman tentang suatu masalah tertentu dan untuk membangun teori berdasarkan hasil penelitian tersebut tanpa memperdulikan apakah hasilpenelitian tersebut akan berguna untuk memecahkan masalah praktis atau tidak.

Terjawab, Misteri Benang Merah Manusia-Kera

Teori evolusi menyebutkan bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Namun, seperti apa perubahan dari kera menjadi manusia jadi pertanyaan besar.

Kini misteri itu terjawab. Ditemukan sebuah fosil kerangka anak kecil berusia sekitar dua juta tahun yang diyakini sebagai spesies baru hominid -- gabungan primata dan manusia. Hebatnya, fosil itu relatif utuh, bukan hanya bagian-bagian tulang atau gigi.

Para ilmuwan yakin, kerangka tersebut adalah tipe nenek moyang manusia yang belum diketahui sebelumnya --yang memasuki tahapan lanjutan manusia kera menjadi manusia, atau disebut juga Homo habilis.

Ahli yang meneliti kerangka itu mengatakan, karakteristik Homo habilis, yang muncul 2,5 juta tahun lalu adalah tahapan kunci dalam evolusi manusia. Penemuan ini diharapkan bisa mengisi kekosongan dalam sejarah evolusi manusia.

Fosil hominid yang ditemukan sebelumnya hanya berupa fragmen tulang, sehingga penemuan kerangka yang nyaris utuh memungkinkan para ilmuwan menjawab pertanyaan kunci mengenai seperti apa bentuk nenek moyang manusia -- ketika mereka mulai berjalan tegak menggunakan dua kaki.

Kerangka tersebut ditemukan Profesor Lee Berger, dari Universitas Witwatersrand, ketika mengeksplorasi sebuah gua di Sterkfontein, wilayah Afrika Selatan, dekat Johannesburg. Gua yang mengandung kapur itu diyakini faktor penting yang menjaga keutuhan kerangka.

Penemuan ini sangat signifikan, sampai-sampai Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma mengundang beberapa ahli universitas untuk melihat fosil itu secara langsung. Kampanye lewat media dan dokumenter televisi juga sedang dipersiapkan.

Professor Phillip Tobias, satu dari tiga ahli yang kali pertama mengidentifikasi Homo habisis pada 1964 mengatakan, penemuan tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa.

"Penemuan sebuah kerangka, alih-alih hanya gigi atau tulang lengan, adalah hal yang sangat jarang," kata dia, seperti dimuat laman The Age, Senin 5 April 2010.

Sementara, Dr Simon Underdown, ahli evolusi manusia dari Universitas Oxford Brookes mengatakan penemuan baru ini membantu para ilmuwan lebih memahami pohon evolusi.

"Penemuan seperti ini membuat kita makin memahami nenek moyang kita di masa-masa mereka berkembang menjadi manusia untuk kali pertamanya," kata dia.

Penemuan ini adalah yang paling penting dan signifikan sejak penemuan fosil utuh berusia 3,3 juta tahun yang diberi nama Australopithicus, atau yang juga dikenal dengan julukan 'kaki kecil' pada 1994.

Penemuan besar lainnya adalah tengkorak utuh dari 2,15 juta tahun lalu berjenis Australopithecus africanus, yang dijuluki 'Nyonya Ples', pada tahun 1947.

Penghasilan Pemain Bola Tertinggi

5 Pemain Sepakbola Dengan Penghasilan Tertinggi

 Striker Barcelona, Lionel Messi, memiliki penghasilan yang terus melonjak. Tahun lalu, dia meraih penghasilan sampai 33 juta euro (sekitar Rp 401,9 miliar), mengalahkan penghasilan David Beckham. Demikian perhitungan yang dibuat France Football tentang daftar pemain dengan bayaran tertinggi. Urutan kedua ditempati David Beckham, disusul Cristiano Ronaldo, Kaka, dan Thierry Henry.

Perhitungan itu cukup mengejutkan, mengingat selama ini David Beckham sangat dominan. Dalam sembilan tahun terakhir, David Beckham selalu memimpin tingkat penghasilan pemain, atau setidaknya berada di urutan kedua.

Kini, pemain LA Galaxy yang sedang dipinjamkan ke AC Milan tersebut terlewati oleh penghasilan Messi. Tahun lalu, penghasilan Beckham hanya 30,4 juta euro (sekitar Rp 370,2 miliar).

Sementara itu, Ronaldo memiliki penghasilan 30 juta euro (sekitar Rp 365,4 miliar). Rekan seklubnya, Kaka, berpenghasilan 18,8 juta euro (sekitar Rp 228,9 miliar). Thierry Henry ternyata masih memiliki penghasilan tinggi, yakni 18 juta euro (sekitar Rp 219,2 miliar). (AP)

Lima Pemain Bola Berpenghasilan Tertinggi pada 2009:

1. Lionel Messi - 33 juta euro (sekitar Rp 401,9 miliar)
2. David Beckham - 30,4 juta euro (sekitar Rp 370,2 miliar)
3. Cristiano Ronaldo - 30 juta euro (sekitar Rp 365,4 miliar)
4. Kaka - 18,8 juta euro (sekitar Rp 228,9 miliar)
5. Thierry Henry - 18 juta euro (sekitar Rp 219,2 miliar)

Lagi Stress,, Ini sulusinya...

jat Menenteramkan Hati, Usir Depresi

Pijat Menenteramkan Hati, Usir Depresi

Siapa yang tidak suka dipijat? Selain mampu memupus lelah dan melemaskan otot, pijat juga mampu menenteramkan hati. Manfaat pijat tidak hanya itu. Studi ilmiah menunjukkan, orang yang sering dipijat juga lebih jarang mengalami depresi.

Terapi pijat sudah sejak lama terbukti punya manfaat pada sisi emosional seseorang, yakni memupus stres dan tekanan tubuh. Dalam sebuah penelitian, terbukti pasien-pasien depresi merasakan dirinya merasa lebih baik setelah mendapatkan terapi pijat.

Dalam suatu penelitian yang dilakukan periset dari Taiwan, dilakukan perbandingan dampak terapi pijat dengan terapi lain, seperti herbal China, olahraga relaksasi atau beristirahat, pada pasien depresi.

Secara umum diketahui, terapi pijat yang dilakukan secara rutin lebih efektif dalam mengurangi gejala-gejala depresi dibandingkan dengan terapi lainnya.

Para ahli meyakini, terapi pijat tidak hanya mengurangi stres dan membuat tubuh menjadi rileks, tetapi tiap sentuhan tangan dari pemijat akan menghasilkan hubungan persahabatan antara terapis dan pasien. Pada akhirnya, hal ini akan memicu dikeluarkannya hormon oksitoksin yang menimbulkan ada rasa saling percaya.

abcs